PONTIANAK – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak cukup hanya dengan mengerahkan personel ketika api sudah membesar. Kesadaran masyarakat menjadi kunci agar kebakaran dapat dicegah sejak awal.
Semangat tersebut menjadi salah satu fokus pertemuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Peserta Didik Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Dikreg ke-36 di Ruang Rapat Ruai Telabang, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Senin (14/9/2026).
Gubernur Kalbar, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., didampingi sejumlah kepala perangkat daerah, menerima langsung rombongan peserta didik Sespimti yang datang dalam rangka Kuliah Kerja Profesi (KKP) sebagai Satgas Edukasi Pencegahan dan Dampak Karhutla.
Para peserta didik nantinya akan turun ke sejumlah wilayah yang dinilai rawan karhutla untuk memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menggali berbagai persoalan dan potensi penguatan mitigasi di lapangan.
Ria Norsan menilai kehadiran Satgas Edukasi tersebut menjadi tambahan kekuatan bagi pemerintah daerah dalam membangun kesadaran masyarakat. Menurutnya, penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran telah terjadi.
“Saya atas nama Pemerintah Provinsi mengucapkan selamat datang di Bumi Khatulistiwa. Terima kasih karena Kalbar dipilih menjadi lokasi pengabdian. Kami sangat terbantu, karena penanganan karhutla tidak hanya soal pemadaman, tetapi yang paling penting adalah edukasi dan pencegahan di masyarakat,” ujar Ria Norsan.
Edukasi Jadi Benteng Pertama
Gubernur berharap kehadiran tim tersebut mampu memberikan pemahaman yang lebih kuat kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
Tidak hanya soal ancaman kebakaran, edukasi juga diharapkan menyentuh dampak asap terhadap kesehatan, kerusakan lingkungan, hingga pentingnya menjaga ekosistem gambut yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Bagi Ria Norsan, pencegahan harus menjadi pekerjaan bersama dan dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha, relawan hingga masyarakat harus memiliki komitmen yang sama dalam menghadapi ancaman karhutla. Ia menegaskan, pola penanganan tidak boleh menunggu sampai api muncul dan meluas.
“Pencegahan harus kita mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat. Jangan sampai kita hanya bergerak ketika api sudah muncul. Edukasi seperti ini sangat penting untuk membangun kesadaran bersama,” tegasnya.
Sespimti Siapkan Strategi Mitigasi Jangka Panjang
Sementara itu, Ketua Rombongan Peserta Didik Sespimti Dikreg ke-36, Brigjen Pol. Semmy Ronny Thabaa, S.E., mengatakan sebanyak 12 peserta didik dari unsur TNI dan Kejaksaan berada di Kalimantan Barat dalam rangka menjalankan tugas sebagai Satgas Edukasi karhutla.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan pada edukasi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta memetakan langkah strategis dalam menghadapi ancaman karhutla.
Menurut Ronny, hasil pelaksanaan kegiatan di lapangan diharapkan dapat menjadi bahan dalam menyusun konsep mitigasi yang lebih matang, termasuk untuk menghadapi potensi karhutla pada tahun-tahun berikutnya.
“Harapan kami nanti bisa ada kesiapan-kesiapan dan langkah-langkah strategis serta kebijakan strategis untuk mempersiapkan konsep-konsep upaya mitigasi dalam penanganan karhutla di tahun-tahun yang akan datang,” ungkap Ronny.
Pemprov Kalbar menyambut baik rencana tersebut. Gubernur berharap Kuliah Kerja Profesi Sespimti dapat menghasilkan manfaat konkret, terutama dalam memperkuat pencegahan karhutla dan meningkatkan kesadaran masyarakat di wilayah rawan.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi masyarakat Kalimantan Barat dan menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk mencegah karhutla serta menjaga lingkungan,” pungkas Ria Norsan.
















Discussion about this post