SAMBAS – Di balik semarak pengibaran 1.000 Bendera Merah Putih dalam Ekspedisi Merah Putih Rumah Jurnalis x MyPertamina di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, tersimpan kisah tentang mereka yang telah puluhan tahun menjaga beranda terdepan Indonesia.
Salah satunya adalah Tabi’in, warga Temajuk yang telah mengabdikan hidupnya di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia sejak 1980. Bagi pria tersebut, menjaga perbatasan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan panggilan untuk tetap menjadi bagian dari penjaga tapal batas negara.
“Saya mulai tinggal di Temajuk sejak tahun 1980. Saat itu kami diminta menetap di sini untuk ikut menjaga wilayah perbatasan Indonesia,” ujarnya saat ditemui dalam rangkaian Ekspedisi Merah Putih, Sabtu (1/8/2026).
Tabi’in menceritakan, kondisi Temajuk pada masa itu masih sangat terpencil. Jalan darat belum memadai sehingga masyarakat lebih banyak berjalan kaki menyusuri pantai atau menggunakan jalur laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, menurutnya, wajah Temajuk kini berubah. Infrastruktur semakin baik, akses jalan mulai terbuka, dan perhatian pemerintah terhadap masyarakat perbatasan terus meningkat.
“Dulu kondisinya sangat sulit. Sekarang alhamdulillah jalan sudah jauh lebih baik dan pembangunan semakin terasa. Kami bersyukur pemerintah terus memperhatikan masyarakat perbatasan,” katanya.
Meski pembangunan terus berjalan, semangat menjaga perbatasan tak pernah berubah. Selama lebih dari empat dekade, Tabi’in tetap memilih tinggal di Temajuk dan menjadi bagian dari masyarakat yang menjaga beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Kami tidak pernah bosan tinggal di perbatasan. Ini rumah kami dan bagian dari Indonesia yang harus terus dijaga,” tuturnya.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Tabi’in berharap perhatian pemerintah terhadap kawasan perbatasan terus berlanjut agar pembangunan dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.
“Kami berharap pembangunan terus dilanjutkan agar masyarakat perbatasan semakin sejahtera. Selama kami masih di sini, kami akan terus menjaga perbatasan,” pungkasnya.
Kisah Tabi’in menjadi potret bahwa nasionalisme di Temajuk tidak hanya diwujudkan lewat pengibaran Merah Putih, tetapi juga melalui pengabdian masyarakat yang setia menjaga batas negeri selama puluhan tahun.
















Discussion about this post