PONTIANAK – Seprah berwarna kuning keemasan terbentang di tengah warga. Di atasnya tersaji nasi, ketupat colet, rendang, paceri, dalca, aneka lauk berkuah, buah-buahan, dan minuman.
Tak ada meja khusus untuk pejabat. Tak ada tempat berbeda bagi tokoh masyarakat atau warga biasa. Semua duduk bersila, berdekatan, lalu mengambil hidangan yang sama.
Suasana itu terlihat dalam perayaan Robo’-Robo’ di Kota Pontianak, Rabu (12/8/2026). Tradisi yang setiap tahun kembali digelar itu mempertemukan warga dalam satu ruang, bukan hanya untuk makan bersama, tetapi juga memanjatkan doa.
Di atas seprah, batas-batas sosial yang sehari-hari terasa di tengah masyarakat seolah menghilang. Percakapan mengalir, tangan saling berbagi makanan, sementara doa menjadi bagian yang menyatukan.
Ketupat colet menjadi salah satu hidangan yang tidak terpisahkan dari jamuan. Namun, maknanya lebih jauh dari sekadar makanan. Ia menjadi simbol berbagi dan kebersamaan.
Robo’-Robo’ sendiri memiliki akar sejarah yang panjang di Kalimantan Barat. Tradisi ini berkaitan dengan kedatangan Opu Daeng Manambon ke Kerajaan Mempawah pada 1737 M atau 1448 H.
Kedatangan tokoh berdarah bangsawan Sulawesi Selatan tersebut kemudian diperingati masyarakat pada Rabu terakhir bulan Safar. Dalam perkembangannya, Robo’-Robo’ juga menjadi tradisi doa tolak bala dan ungkapan syukur.
Masyarakat berkumpul, memanjatkan doa keselamatan, kemudian makan bersama dalam tradisi saprahan.
Dari Mempawah, tradisi itu kemudian berkembang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, termasuk Pontianak. Di kota ini, Robo’-Robo’ tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga ruang untuk mempertemukan masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan Robo’-Robo’ memiliki makna religius yang kuat. Tradisi tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk memohon keselamatan, ketenteraman, dan perlindungan bagi Kota Pontianak.
“Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, ancaman kebakaran lahan, hingga penurunan kualitas air Sungai Kapuas akibat intrusi air laut, Robo’-Robo’ terasa makin relevan sebagai ikhtiar batin masyarakat untuk mengetuk langit bersama,” kata Edi seusai membuka Pesta Rakyat Robo’-Robo’ Kota Pontianak 2026.
Menurut Edi, Robo’-Robo’ juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Masyarakat dari berbagai latar belakang dapat duduk bersama dan merawat persaudaraan melalui tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Pontianak sebagai kota yang heterogen, lanjut Edi, membutuhkan persatuan agar pembangunan dapat terus berjalan.
Peringatan Robo’-Robo’ tahun ini juga berlangsung beriringan dengan semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kita tidak cuma melestarikan tradisi, tetapi juga mengisinya dengan ketertiban, kepedulian sosial, ketaatan pada aturan, serta komitmen menjaga kebersihan dan kedamaian kota,” ujar Edi.
Perayaan Robo’-Robo’ juga berlangsung di Taman Teras Parit Nanas, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara. Warga berkumpul, menyantap hidangan, dan memanjatkan doa bersama.
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan Robo’-Robo’ merupakan warisan budaya yang tidak cukup hanya dipertahankan bentuknya. Nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu terus dihidupkan.
Menurut dia, Robo’-Robo’ menjadi momentum untuk bermunajat, memanjatkan doa keselamatan dunia dan akhirat, sekaligus mensyukuri nikmat kehidupan yang diberikan Allah SWT.
Tradisi itu juga memiliki fungsi sosial penting bagi Pontianak yang dihuni masyarakat dari beragam suku, agama, dan latar belakang.
“Perbedaan kita jadikan kekuatan untuk saling menghormati,” kata Bahasan.
Bahasan menilai kerukunan dan kondusivitas kota bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat. Keduanya membutuhkan kesadaran seluruh warga.
Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian bersama terhadap persoalan pembangunan, mulai dari ruang publik, penerangan lingkungan, pendidikan hingga rumah tidak layak huni.
“Ini harus jadi pengingat kita untuk saling membantu, saling menjaga, dan memastikan tak ada warga yang tertinggal,” ujarnya.
Bagi masyarakat Pontianak, Robo’-Robo’ pada akhirnya bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia menjadi tradisi yang terus menemukan makna di tengah kehidupan kota yang berubah.
Seprah menjadi ruang perjumpaan. Ketupat colet menjadi hidangan yang dibagi. Sementara doa menjadi pengikat.
Di sana, tradisi tidak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan kembali melalui kebersamaan. Warga duduk sejajar, makan dari hidangan yang sama, lalu pulang membawa harapan yang sama: keselamatan dan kedamaian bagi kota tempat mereka hidup.
















Discussion about this post