SAMBAS – Keterbatasan kuota solar bersubsidi memaksa sebagian nelayan di Desa SB Kuala, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, mengurangi aktivitas melaut.
Bahkan, ketika jatah solar habis, mereka terpaksa berhenti melaut atau membeli solar eceran dengan harga yang jauh lebih mahal, sehingga keuntungan dari hasil tangkapan semakin menipis.
Keluhan itu disampaikan para nelayan yang mengaku pasokan solar bersubsidi yang mereka terima setiap pekan jauh dari kebutuhan operasional.
Rolidi, salah seorang nelayan, mengatakan kebutuhan solar untuk melaut mencapai 30 hingga 40 liter dalam sepekan. Namun, dari SPBU di Kecamatan Jawai, ia hanya memperoleh sekitar 18 liter solar bersubsidi.
“Dalam seminggu saya biasanya hanya dapat sekitar 18 liter solar, padahal kebutuhan untuk melaut bisa mencapai 30 sampai 40 liter. Jadi jelas tidak mencukupi,” katanya.
Akibat keterbatasan tersebut, Rolidi kerap menghentikan aktivitas melaut setelah jatah solar habis. Jika tetap ingin mencari ikan, ia harus membeli solar eceran seharga Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter.
“Kalau solar habis, saya terpaksa tidak melaut. Kalaupun tetap melaut, biasanya beli solar eceran. Tapi solar eceran juga kadang susah didapat,” ujarnya.
Menurut Rolidi, tingginya harga solar eceran membuat biaya operasional membengkak sehingga hasil penjualan ikan sering kali tidak mampu menutup ongkos melaut.
“Kalau terus beli solar eceran, hasil melaut kadang tidak cukup untuk menutup biaya. Kami berharap pemerintah bisa menambah kuota solar bersubsidi agar kebutuhan nelayan selama satu minggu bisa terpenuhi,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Bustani. Ia mengaku membutuhkan sekitar 4 hingga 5 liter solar setiap hari untuk melaut. Namun, dalam sepekan ia hanya bisa membeli solar bersubsidi senilai sekitar Rp100 ribu.
“Dalam sehari saya butuh sekitar 4 sampai 5 liter solar. Tapi di SPBU hanya bisa beli sekitar Rp100 ribu untuk satu minggu. Jumlah itu jelas tidak cukup,” katanya.
Kondisi itu membuat Bustani hanya mampu melaut sekitar empat hari dalam sepekan. Setelah jatah solar habis, ia memilih berhenti bekerja karena solar eceran juga sulit ditemukan.
“Kalau solar sudah habis, saya tidak bisa melaut lagi. Solar eceran pun kadang tidak ada. Padahal melaut ini pekerjaan kami untuk menghidupi keluarga,” ujarnya.
Para nelayan berharap pemerintah bersama instansi terkait mengevaluasi distribusi sekaligus menambah kuota solar bersubsidi bagi nelayan kecil di Kecamatan Jawai.
Menurut mereka, ketersediaan BBM menjadi faktor utama agar aktivitas melaut tetap berjalan dan penghasilan nelayan tidak terus menurun.
















Discussion about this post