PONTIANAK – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Alam Terpadu Cerlang Pontianak berlangsung dengan cara yang berbeda.
Tak hanya siswa baru yang dikenalkan pada lingkungan sekolah, para orang tua juga dilibatkan secara aktif sebagai bagian dari proses membangun kemitraan dalam pendidikan anak.
Seluruh rangkaian kegiatan pada Minggu (19/7/2026) diawali dengan perkenalan antara guru, orang tua, dan peserta didik. Suasana hangat langsung terasa saat mereka saling berkenalan sebelum dibagi ke dalam beberapa kelompok.
Para ayah mendapat tugas memasak makan siang bersama menggunakan bahan makanan yang dibawa masing-masing anak dari rumah. Sementara itu, para ibu menata perlengkapan belajar di ruang kelas, mulai dari buku hingga alat tulis, agar siap digunakan saat proses belajar dimulai.
Di sisi lain, anak-anak menikmati waktu bermain, berinteraksi, dan mengekspresikan kreativitas bersama teman-teman barunya.
Kebersamaan berlanjut saat seluruh peserta menikmati makan saprahan. Menu sederhana seperti telur goreng, tahu, tempe, dan tumis sayur menjadi hidangan hasil kerja sama para ayah. Anak-anak dari jenjang PAUD, TK, hingga SD turut berkontribusi dengan menyiapkan buah-buahan sebagai hidangan penutup.
Setelah makan bersama, para orang tua mengikuti diskusi dengan pihak sekolah mengenai program pembelajaran yang akan dijalankan selama satu semester.
Pendiri Sekolah Alam Terpadu Cerlang, Sri Wartati, mengatakan MPLS sengaja dirancang dengan pendekatan kekeluargaan karena pendidikan anak tidak bisa dipisahkan dari peran orang tua.
“Di Cerlang, MPLS tidak hanya diperuntukkan bagi anak. Sebagian besar kegiatannya justru melibatkan orang tua. Selain memperkenalkan program sekolah, kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi agar para orang tua saling mengenal,” ujarnya.
Menurut Sri, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti kegiatan bersama tanpa dipisahkan berdasarkan jenjang pendidikan. Setelah itu, anak-anak baru diarahkan ke kelas masing-masing.
Ia menegaskan keluarga merupakan fondasi utama dalam pendidikan anak, sementara sekolah berperan sebagai mitra yang mendukung proses tersebut.
“Guru pertama dan utama bagi anak adalah orang tua dan keluarganya. Sekolah hadir sebagai mitra yang membantu proses pendidikan, sehingga keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam setiap tahapan perkembangan anak,” katanya.
Sri menambahkan, anak menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dibandingkan di sekolah. Karena itu, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi, ia mengingatkan agar rumah tetap menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bertumbuh.
“Rumah harus tetap menjadi tempat anak kembali, sedangkan orang tua menjadi pegangan utamanya. Di tengah arus teknologi dan informasi yang begitu cepat, anak membutuhkan jangkar yang kokoh,” pungkasnya.
















Discussion about this post