SAMBAS – Ketika sejumlah wilayah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, masih berhadapan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap, Bupati Sambas Satono justru berada di Jakarta.
Satono bertemu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang juga menjabat Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI. Agenda yang dibahas bukan soal karhutla atau kabut asap, melainkan percepatan pembangunan kawasan perbatasan Temajuk.
Dalam unggahan di akun media sosialnya, Satono menyebut pertemuan itu membahas upaya mempercepat pembangunan daerah perbatasan Temajuk. Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir dan Sekretaris Utama BNPP RI Ozi Rahman.
“Pertemuan membahas upaya percepatan pembangunan daerah perbatasan Temajuk di Kabupaten Sambas,” tulis Satono dalam unggahannya.
Agenda pembangunan perbatasan tersebut tentu menjadi bagian penting bagi Kabupaten Sambas. Temajuk merupakan kawasan strategis yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat, terutama untuk pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah perbatasan.
Namun, ada persoalan lain yang sedang berlangsung di rumah sendiri.
Saat Satono membahas percepatan pembangunan Temajuk di Jakarta, karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Sambas. Asap juga dilaporkan semakin pekat dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat.
Persoalan kabut asap bukan sekadar soal pemandangan yang memutih. Jarak pandang, kualitas udara hingga risiko terhadap kesehatan masyarakat ikut menjadi perhatian.
Kontras itu kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: ketika warga masih berhadapan dengan asap dan api, seberapa cepat pemerintah daerah hadir menangani persoalan tersebut?
Komentar warga pun bermunculan di media sosial. Salah satunya mempertanyakan prioritas pemerintah daerah di tengah kondisi tersebut.
“Sebenarnya yang harus dibahas, bagaimana cara untuk memadamkan api yang terbakar di hutan di daerah Kabupaten Sambas,” tulis seorang netizen.
Pembangunan kawasan perbatasan tetap penting. Namun, bagi warga yang hari ini menghirup asap dan berhadapan dengan dampak karhutla, persoalan yang paling mendesak mungkin bukan apa yang akan dibangun di masa depan, melainkan bagaimana api dipadamkan hari ini.
Di Jakarta, pembangunan perbatasan dibahas. Di Sambas, asap masih menjadi pekerjaan rumah.
















Discussion about this post