PONTIANAK – Ada yang berbeda dari logo Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak. Jika sebelumnya identitas kota banyak ditampilkan melalui bangunan atau ikon fisik, tahun ini manusia dipilih menjadi wajah utama.
Logo dengan tema “Tangguh Bersahabat” itu resmi diluncurkan Pemerintah Kota Pontianak, Senin (5/10/2026), di Pontive Center.
Di balik logo tersebut ada gagasan tentang warga Pontianak yang mampu beradaptasi, saling menguatkan dan tumbuh bersama. Gagasan itu kemudian diterjemahkan dalam slogan “Kite Jage Kite”.
Perwakilan pemenang sayembara, Gusti Fakhri Aliansyah, mengatakan figur manusia sengaja dipilih untuk menunjukkan bahwa identitas sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan, jalan atau landmark, tetapi terutama oleh masyarakat yang hidup di dalamnya.
“Dari awal sampai sekarang, kita terbentuk karena adaptif dan saling menguatkan satu sama lain,” ujar Gusti seusai peluncuran.
Menurut dia, kemampuan beradaptasi merupakan bagian dari keseharian masyarakat Pontianak. Dari rumah panggung dan gertak sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi lingkungan, hingga solidaritas warga ketika menghadapi kabut asap dan berbagai persoalan kota.
Karena itu, ketangguhan yang ingin disampaikan melalui logo bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan kekuatan yang muncul ketika masyarakat menghadapi persoalan secara bersama-sama.
“Yang ingin saya angkat lewat logo ini adalah semangat kolektif. Kita tangguh karena kita bersama,” katanya.
Tangguh Menghadapi Perubahan
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan tema “Tangguh Bersahabat” lahir dari situasi yang dihadapi Pontianak dalam beberapa waktu terakhir.
Kota ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kemarau panjang dan kabut asap, genangan, cuaca ekstrem hingga persoalan air baku akibat intrusi air laut.
“Tangguh ini karena kita sedang menghadapi berbagai kondisi alam. Kemarau panjang kemarin menyebabkan kabut asap, kemudian air baku kita juga terintrusi air laut sehingga kadar garamnya meningkat. Karakter tangguh ini yang kita perlukan sebagai semangat warga Kota Pontianak,” ujar Edi.
Adapun kata “bersahabat”, lanjut Edi, menggambarkan karakter Pontianak sebagai kota yang dihuni masyarakat dari beragam suku dan agama.
“Pontianak ini heterogen. Karena itu kita ingin membangun kota yang harmonis, toleran, damai, sejuk dan nyaman,” katanya.
Karya Anak Pontianak
Logo Hari Jadi ke-255 ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Pontianak memberi ruang lebih besar kepada talenta lokal.
Tahun ini, sayembara logo secara khusus dibuka bagi warga Pontianak. Sebanyak 16 tim mengikuti rangkaian proses mulai dari pelatihan, mentoring hingga presentasi akhir. Gusti Fakhri Aliansyah dan Tomy Anggara kemudian terpilih sebagai pemenang.
Edi mengatakan kebijakan tersebut sengaja diambil agar anak-anak muda Pontianak memiliki kesempatan menunjukkan kreativitas sekaligus ikut membangun identitas kotanya.
“Mudah-mudahan yang masuk finalis maupun yang terpilih bisa semakin semangat berkreativitas, bukan hanya membuat logo, tetapi juga branding-branding lainnya, bahkan sampai tingkat nasional dan internasional,” ujarnya.
Menurut Edi, kreativitas anak muda penting untuk mendorong perkembangan kota. Namun, modernisasi tetap harus berjalan beriringan dengan sejarah dan kearifan lokal.
“Usia 255 tahun ini cukup matang untuk sebuah kota. Tantangannya juga tidak ringan. Karena itu dibutuhkan ketangguhan, kebersamaan, kreativitas dan partisipasi seluruh masyarakat untuk membawa Pontianak terus maju,” pungkasnya.
















Discussion about this post