PONTIANAK — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat belum menganggap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selesai. Meski sebagian besar titik api telah berhasil dikendalikan, ancaman kebakaran kembali muncul masih tinggi, terutama di kawasan gambut.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga berpotensi kembali muncul setelah kobaran di permukaan berhasil dipadamkan.
Hal itu disampaikan Norsan setelah mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto secara daring, Rabu (16/9/2026). Ratas tersebut membahas perkembangan penanganan bencana, termasuk evaluasi karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Norsan mengikuti rapat bersama Pangdam XII/Tanjungpura, Kapolda Kalbar, Danlanud Supadio, serta jajaran pemerintah pusat dan unsur Forkopimda.
Dalam rapat, Kepala BNPB melaporkan luas lahan yang masih terbakar secara nasional sekitar 393,8 hektare dan tersebar di enam provinsi. Penanganan dilakukan melalui operasi terpadu di darat dan udara.
Norsan menegaskan kondisi tersebut menjadi alasan bagi seluruh unsur untuk tidak mengendurkan operasi.
“Karhutla belum selesai. Memang sebagian besar sudah berhasil kita tangani, tetapi masih ada yang membutuhkan penanganan. Apalagi karakteristik lahan gambut membuat api berpotensi muncul kembali,” kata Norsan.
Menurut dia, operasi darat dan udara akan tetap dilakukan secara beriringan. Personel di lapangan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api, tetapi juga melakukan pendinginan, patroli, dan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.
Operasi water bombing juga terus disiapkan dan dijalankan sesuai kondisi di lapangan sebagai dukungan terhadap penanganan dari udara.
“Operasi darat, operasi udara, patroli dan pencegahan harus terus kita perkuat sampai kondisi benar-benar aman,” ujarnya.
Penanganan Berlanjut hingga November
Norsan mengatakan berdasarkan hasil evaluasi, penanganan karhutla secara masif dan berkelanjutan masih diperlukan setidaknya hingga awal November 2026.
Perpanjangan upaya tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah titik api. Pemerintah juga harus memastikan kawasan yang pernah terbakar tidak kembali menjadi sumber api baru.
“Yang kita lakukan bukan hanya memadamkan api, tetapi bagaimana api tidak muncul kembali,” kata Norsan.
Selain operasi darat dan udara, pemerintah juga mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, efektivitas OMC masih dipengaruhi kondisi atmosfer yang relatif kering serta terbatasnya pertumbuhan awan hujan.
“OMC tetap kita dukung dan operasi udara juga terus berjalan sesuai kondisi di lapangan. Tetapi kondisi cuaca masih menjadi tantangan,” ujarnya.
Karena itu, Norsan meminta langkah pencegahan tetap berjalan sembari menunggu kondisi cuaca membaik.
Prabowo Minta Korporasi dan Individu Ditelusuri
Dalam Ratas, Presiden Prabowo Subianto juga menekankan aspek penegakan hukum. Pihak yang terbukti menyebabkan atau terlibat dalam karhutla diminta ditindak berdasarkan bukti dan ketentuan hukum.
Penelusuran tidak hanya diarahkan kepada korporasi, tetapi juga perorangan.
Di sisi lain, pencegahan juga menjadi perhatian. Pemerintah bersama TNI dan Polri didorong memperkuat edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, termasuk menyediakan peralatan yang dapat membantu aktivitas pembukaan lahan tanpa membakar.
Presiden juga mendorong kajian lebih mendalam bersama ahli gambut dari dalam maupun luar negeri. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah memahami karakteristik gambut sekaligus menemukan metode penanganan yang lebih efektif.
Menindaklanjuti arahan Presiden, Norsan mengatakan Pemprov Kalbar akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, TNI/Polri, pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat.
“Pencegahan, patroli, penegakan hukum dan edukasi masyarakat harus berjalan bersama,” katanya.
Ia menegaskan perlindungan masyarakat tetap menjadi prioritas, termasuk menjaga kualitas udara, keselamatan penerbangan, dan lingkungan.
“Kita tidak boleh lengah. Seluruh kekuatan harus terus bergerak sampai karhutla benar-benar terkendali,” pungkas Norsan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalbar, Plt Kepala BPBD Provinsi Kalbar, serta Plt Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar.
















Discussion about this post