PONTIANAK – Bagi Maman Suherman, literasi bukan sekadar kemampuan membaca rangkaian kata atau menulis sebuah kalimat. Literasi, menurut penulis sekaligus social influencer yang akrab disapa Kang Maman itu, adalah kemampuan memahami kehidupan, membaca persoalan di sekitar, berpikir kritis, lalu mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Pandangan itu kembali ia temukan saat mengunjungi Sekolah Alam Cerlang di Pontianak, Senin (28/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi yang kedua bagi Kang Maman setelah beberapa tahun sebelumnya ia berkesempatan mengenal lebih dekat konsep pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut.
“Dunia literasi sekolah bukan cuma ruangan literasi, bukan cuma baca tulis. Literasi adalah bagaimana memahami yang tersirat dan tersurat, mengembangkan imajinasi yang kritis sejak dini, serta kemampuan mengembangkannya dan mempraktikkannya,” ujarnya.
Menurut Kang Maman, konsep tersebut tampak dari cara Cerlang mengajak anak-anak berhadapan dengan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan pembelajaran mengenai mitigasi bencana. Anak-anak tidak hanya menerima materi dalam bentuk teori, tetapi diajak berdiskusi, bermain, hingga melakukan praktik.
“Saya jatuh cinta ketika pertama datang dan diajak berdiskusi tentang mitigasi bencana. Kami bermain dan berpraktik baik literasi tentang bagaimana menghadapi bencana dan lainnya,” katanya.
Yang membuatnya semakin terkesan, anak-anak di sekolah tersebut mampu membicarakan isu yang cukup kompleks dengan bahasa sederhana sesuai dengan usia mereka.
Ia bercerita pernah bertemu siswa sekolah dasar yang sudah mendiskusikan persoalan kesetaraan gender. Bahkan, siswa kelas enam SD telah mampu mengajukan pertanyaan mengenai dampak inflasi terhadap kehidupan sehari-hari.
“Anak kelas enam SD sudah bertanya dampak inflasi bagi hidup kami. Sederhana, misalnya harga es krim menjadi mahal,” tuturnya.
Bagi Kang Maman, contoh tersebut
menunjukkan bahwa anak tidak hanya menghafal pengetahuan, tetapi belajar menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan realitas di sekitarnya.
Belajar dengan Cara yang Membuat Anak Bahagia
Hal lain yang menarik perhatiannya adalah suasana belajar yang memberikan ruang bagi anak untuk menentukan aktivitasnya sendiri.
Di Cerlang, anak-anak dapat memilih kegiatan yang mereka sukai. Ada yang menulis, berdialog, berdiskusi, bermain catur, hingga memilih permainan lainnya.
“Tidak ada paksaan. Buat saya, itu sebenarnya merdeka belajar,” ujarnya.
Kang Maman kemudian menghubungkan suasana tersebut dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang sekolah sebagai taman. Taman, menurutnya, bukan sekadar tempat untuk tumbuh, tetapi ruang yang memberi kebebasan, rasa aman, dan kebahagiaan.
“Taman itu tempat orang bebas. Mau membaca buku sambil berlari, makan, bermain, pokoknya bahagia. Bahagia dengan buku, lingkungannya, teman-temannya, dan gurunya,” katanya.
Orang Tua Bukan Sekadar Pengantar Anak
Menurut Kang Maman, ekosistem literasi tidak akan tumbuh kuat jika hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga dan masyarakat juga harus mengambil bagian.
Ia melihat hal itu dipraktikkan di Cerlang. Orang tua tidak hanya datang untuk mengantar dan menjemput anak, tetapi turut terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah.
Salah satu yang mendapat apresiasinya adalah kegiatan arisan buku yang melibatkan guru dan orang tua.
“Saya capek teriak di mana-mana tentang arisan buku, tetapi di sini sudah dijalankan oleh guru dan para orang tua,” ujarnya.
Ia melihat keterlibatan tersebut sebagai bentuk nyata konsep human library, ketika setiap orang dapat menjadi sumber pengetahuan dengan membagikan pengalaman dan cerita yang dimilikinya.
“Siapa pun bisa menjadi pembicara. Orang tua banyak yang dilibatkan dan berbagi pengalaman. Itulah nyatanya human library. Orang tua adalah bagian dari sekolah ini,” katanya.
Dari Satu Sekolah untuk Sekolah Lain
Kang Maman berharap praktik literasi yang telah berjalan di Cerlang tidak berhenti sebagai tradisi internal sekolah. Ia mendorong agar praktik baik tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan sekolah lain.
Salah satu gagasan yang ia tawarkan adalah membangun jejaring perpustakaan antarsekolah atau inter-library, sehingga koleksi buku dan pengalaman literasi dapat saling dibagikan.
“Kalau ada buku di sini bisa dipinjam, begitu juga kalau anak mau membaca buku dari sekolah lain. Mari menjalankan inter-library, saling meminjamkan buku,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan akan menjadi lebih kuat ketika literasi di rumah, sekolah, dan masyarakat berjalan bersama, bukan sebagai ruang-ruang yang terpisah.
“Jadi tidak perlu bertanya itu harus dimulai di usia berapa. Semuanya bisa berjalan beriringan,” pungkasnya.















Discussion about this post