PONTIANAK – Intrusi air laut mulai mengganggu sumber air baku Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa. Kadar garam di Waduk Penepat kini mencapai lebih dari 1.000 miligram per liter sehingga air semakin sulit diolah.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan sumber air baku alternatif dari Desa Radak, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya. Tiga tongkang disiapkan untuk mengangkut air dari lokasi tersebut ke Pontianak.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, hasil pengecekan menunjukkan kadar garam air di Desa Radak masih di bawah 10 miligram per liter, jauh lebih rendah dibandingkan sumber air di Penepat.
“Melihat perkembangan sampai kemarin, sumber air baku kita di Penepat sudah terintrusi air laut. Kadar garamnya di atas 1.000 miligram per liter dan kondisinya keruh. Jadi, kita tidak punya pilihan lain selain mencari sumber alternatif,” ujar Edi, Minggu (13/9/2026).
Air dari Radak rencananya dibawa ke Pontianak untuk diolah di instalasi pengolahan air (IPA) Parit Mayor. Pasokan tersebut akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Pontianak Timur dan kawasan Nipah Kuning Dalam.
Pasokan juga akan dialirkan ke IPA Selat Panjang. Pemerintah kota berharap sumber alternatif tersebut dapat menjaga produksi air bersih selama kualitas air baku di Penepat belum memungkinkan untuk diolah secara optimal.
Selain mendatangkan air dari Kubu Raya, Pemkot Pontianak menambah kemampuan pengolahan dengan meminta penambahan mesin reverse osmosis (RO).
“Kita sudah meminta penambahan mesin RO agar kapasitasnya lebih besar. Ini kondisi darurat, jadi kapasitas pengolahan harus kita tambah,” kata Edi.
Pemkot juga mengupayakan satu sumber air lain dengan kadar garam sekitar 47 miligram per liter agar dapat masuk ke IPA 3. Jika terealisasi, sumber tersebut diperkirakan mampu menambah pasokan sekitar 100 liter per detik.
“Kalau ini bisa masuk, ini bisa 100 liter per detik. Ini sangat membantu dan bisa kita salurkan lagi ke kecamatan-kecamatan,” ujarnya.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Abdullah mengatakan, tingginya kadar garam membuat proses pengolahan air menjadi lebih berat. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap peralatan pengolahan yang digunakan.
Menurut Abdullah, teknologi seawater reverse osmosis (SWRO) yang dimiliki Perumda saat ini belum memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani kebutuhan air dalam skala kota.
“SWRO yang kita miliki kapasitasnya masih kecil, sehingga penggunaannya lebih sebagai solusi saat kondisi tertentu,” ujarnya.
Padahal, kapasitas total instalasi pengolahan air Perumda mencapai sekitar 2.300 liter per detik. Karena itu, mencari sumber air baku dengan kadar garam lebih rendah menjadi pilihan utama untuk menjaga produksi.
Sambil menyiapkan sumber air alternatif, distribusi air bersih kepada masyarakat terus dilakukan menggunakan mobil tangki dan melalui sejumlah titik penampungan.
Di penampungan Perum 3, dari stok awal sekitar 1,5 juta liter, sekitar 1,3 juta liter telah disalurkan. Di Wonoyoso, sekitar 350 ribu liter dari stok 500 ribu liter telah digunakan. Sedangkan di Boster Kesehatan, sekitar 20 ribu liter dari stok 30 ribu liter telah tersalurkan.
“Air kita salurkan melalui mobil tangki dan masyarakat juga bisa mengambil secara mandiri menggunakan galon atau jeriken,” kata Abdullah.
Distribusi juga diprioritaskan ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, rumah sakit milik Pemkot Pontianak, Yarsi, Rumah Sakit Universitas Tanjungpura, serta klinik yang melayani pasien cuci darah.
Abdullah mengatakan distribusi air bersih telah menjangkau hampir seluruh kecamatan di Pontianak. Jumlah pasokan setiap wilayah disesuaikan dengan kebutuhan.
Untuk sementara, air yang didatangkan dari sumber alternatif akan diberikan secara gratis kepada masyarakat. Namun, air tersebut belum dapat langsung dialirkan melalui sambungan rumah karena kapasitas pengangkutan menggunakan tongkang masih terbatas.
Penambahan armada tongkang diharapkan dapat meningkatkan volume air baku yang dibawa ke Pontianak untuk kemudian diolah dan didistribusikan kepada masyarakat.
















Discussion about this post